Atasanku, Teman Baikku

BERCANDA dengan sahabat di ruang kubikal di saat jam makan siang memang menyenangkan, apalagi diselingi bergosip yang makin memeriahkan suasana istirahat Anda.

Tapi, apa jadinya jika sahabat Anda itu adalah atasan Anda di kantor, rasa-rasanya akan sedikit aneh atau canggung, ya? Namun ternyata, ada beberapa diantaranya justru memanfaatkan kedekatan itu untuk bersikap tidak profesional di tempat kerja.

Padahal ditegaskan Linawaty Mustopoh, dari Experd Consultant, karyawan baik adalah karyawan yang mampu menjaga profesionalisme kerja, meski atasannya adalah sahabatnya sendiri.

“Jangan mentang-mentang atasan adalah sahabat kita, lalu kita bisa seenaknya mengulur waktu atau meminta atasan mengurangi beban pekerjaan,” ungkap Lina, seperti dilansir CyberNews dari TabloidNova.

Menjadi “Penjilat”

Tak dipungkiri, saat sahabat diposisikan sebagai atasan, bisa jadi inilah keuntungan Anda. Anda merasa diberi peluang meminta hak cuti di luar ketentuan kantor, masuk dan pulang kerja sesuka hati, hingga boleh mangkir dari tugas kantor, bahkan sering menunda pekerjaan dan parahnya membujuk atasan menaikkan jabatan.

Mengertilah, Anda tak bisa melakukan semua itu seenak hati, mengingat sahabat Anda bukanlah pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan. Bersikaplah selayaknya seorang profesional, yang menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai kerja.

Anda tentu tak ingin dianggap sebagai “penjilat” atau tukang “cari muka”, kan? Jangan sampai posisi Anda sebagai sahabat atasan memancing kecemburuan rekan-rekan kerja yang lain, sehingga berimbas pada lingkungan kerja yang tidak lagi sehat.

Dimanfaatkan

Jangan pula kedekatan Anda dengan atasan justru dimanfaatkannya untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Misalnya, “Anterin  aku ke mal, yuk”, “Udah , nanti aja  kamu kerjain  laporannya. Toh, aku juga enggak ada di kantor hari ini, jadi mending  kamu ikut aku aja”.

Ingat, sekalipun Anda adalah sahabatnya, sebaiknya jangan terlalu sering meluluskan pintanya yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan pekerjaan Anda. Jika perintah atasan masih ada hubungannya dengan jobdesk Anda, misal bertemu klien, sebaiknya jangan ditolak, toh, tujuannya baik, untuk memperluas jaringan dan wawasan Anda.

Komunikasikan prinsip-prinsip Anda kepada atasan secara gamblang. Katakan, bahwa Anda ingin bersikap profesional. Sebagai sahabat dan atasan Anda, ia tentu bisa menghargai integritas dan etos kerja Anda. Ingat, jagalah kualitas persahabatan Anda dan atasan, jangan sampai ternodai hanya karena Anda takut berkata “tidak” meski jalinan persahabatan itu sudah melampaui batas kebenaran.

Asisten pribadi “wannabe”

Mengingat kedekatan dengan atasan yang juga sahabat sendiri, Anda seringkali tanpa sadar berlagak layaknya asisten pribadi, mengikuti kemanapun kaki atasan melangkah. Segala hal yang berhubungan dengan kebijakan kantor, Anda ikut-ikutan merumuskan, meski Anda tak punya kewenangan soal itu. Hal ini karena Anda mengganggap diri Anda “sepadan” dengannya.

Ingat, jangan sampai kedekatan dengan atasan, membuat Anda sulit menerima koreksi atau teguran dari pimpinan. Bersikaplah profesional dan konsisten menjalankan tugas dan tanggung jawab, jangan sampai ketidak profesionalan Anda mengganggu sistem kerja perusahaan.

Menjaga wibawanya

Meski bersahabat dengan atasan, Anda tak perlu harus menjaga jarak dengan sahabat Anda itu. Saat di kantor, ikuti saja aturan, standar, dan target yang diberlakukan. Sebagai atasan sekaligus sahabat, sapalah ia dengan sebutan yang tetap terkesan formal dan tetap menjaga wibawanya di hadapan karyawan lain.

Bersikap bijaksana

Sebagai seorang profesional, Anda dituntut untuk mampu bersikap bijaksana, memilah mana urusan pribadi dan mana urusan kantor. Keduanya terpisah dalam ranah yang berbeda, namun kebanyakan orang masih sulit memisahkan diantara keduanya. Usahakan jangan membawa urusan pribadi Anda dan atasan sebagai sahabat di kantor. Hindari sikap saling mengkritik, memarahi atau mengeluh.

Menyeimbangkan hubungan

Hubungan Anda dan atasan sebagai sahabat memang tak lagi bisa dipisahkan. Atasan sering mengajak Anda makan siang, dan ini bisa jadi menimbulkan kesan ekslusifitas di mata rekan-rekan kerja yang lain. Hindari hal itu. Mintalah atasan untuk mengajak serta rekan kerja yang lainnya di lain kesempatan. Ingat, jagalah selalu keseimbangan hubungan antara Anda, atasan dan rekan kerja yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

document.write('Internet Marketing - Online');

Klik tertinggi

  • Tak ada
Maret 2011
S S R K J S M
« Jan   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: